Jl. RC. Veteran Raya No.178(021) 7342012 Senin - Sabtu: 08:00 - 17:00 /

Blog

LINDUNGI BAYI DARI PENULARAN HIV AIDS MELALUI IBU

 

Human immunodeficiency virus atau biasa dikenal dengan HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages-komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini megakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. AIDS adalah singkatan dari acquired immunodeficiency syndrome dan menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Sebagian besar orang yang terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan, akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 8-10 tahun. AIDS diidentifikasi berdasarkan beberapa infeksi tertentu yang dikelompokkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

HIV-AIDS merupakan masalah global, menurut UNAIDS report on the global aids epidemic 2012, pada tahun 2011 di wilayah asia tenggara terdapat 4 juta orang dewasa dan anak yang hidup dengan menderita HIV serta 280 ribu orang dewasa dan anak dengan kasus baru terinfeksi HIV. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kasus HIV-AIDS yang meningkat selama kurun waktu 2001-2011.

Jumlah kasus AIDS tertinggi menurut pekerjaan selama periode januari-juni 2012 sebanyak 276 kasus adalah ibu rumah tangga. Jumlah perempuan HIV positif yang hamil pun turut meningkat. Berdasarkan proporsi kasus AIDS menurut faktor resiko, penularan dari ibu ke anak menempati urutan terbesar ketiga (4,2%) setelah heteroseksual dan penggunaan jarum suntik (penasun).

Penularan HIV dari ibu hamil ke bayi melalui proses persalinan mepunyai resiko paling besar (10-20%). Sejumlah faktor mempengaruhi terjadinya resiko infeksi. Selama persalinan, bayi dapat tertular darah atau cairan pervagina yang mengandung HIV. Ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat dipengaruhi dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur, penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum/forsep, episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada ibu. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses melahirkan, semakin besar resiko penularan. Transmisi lain terjadi selama periode postpartum (setelah melahirkan) yaitu melalui Air Susu Ibu (ASI). Resiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif HIV sebesar 10-15%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap therapi anti retroviral dan melahirkan dengan bedah caesar, tingkat penularan dapat ditekan hingga hanya sebesar 1%.

Mengingat tingginya resiko penularan HIV AIDS dari ibu ke bayi, diperlukan partisipasi dini guna mengurangi kejadian tersebut. Pemerintah telah merumuskan kebijakan mengenai program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Secara garis besar tujuan program PPIA adalah mengurangi infeksi HIV pada bayi dan sifilis congenital, mengurangi angka kematian ibu dan bayi dan mewujudkan MDGs goal 4, 5 dan 6 (MDG 4: menurunkan angka kematian ibu dan anak, MDG 5 : menurunkan angka kematian ibu melahirkan, MDG 6 : mengendalikan dan mulai menurunkan jumlah infeksi baru HIV) . Program PPIA dirumuskan dalam 6 kebijakan, yaitu :

  1. Intergrasi PPIA dalam pelayanan KIA melalui :
    1. Memberikan informasi PPIA pada semua perempuan yang datang ke pelayanan kesehatanan ibu, KB dan konseling  remaja.
    2. Di daerah epidemi meluas, petugas wajib menawarkan test HIV dan Sifilis kepada semua ibu hamil secara inklusif dengan pemeriksaan rutin lainnya pada kunjungan antenatal sampai persalinan
    3. Di daerah epidemi terkonsentrasi dan rendah. Petugas wajib menawarkan test HIV dan Sifilis secara inklusif dengan pemeriksaan rutin lainnya pada ibu hamil dan atau pasangannya yang berprilaku berresiko, yang mempunyai keluhan atau gejala IMS dan dengan gejala oportunistik pada kunjungan neonatal sampai persalinan
    4. Melakukan kordinasi LP/LS termasuk LSM terkait pelayanan PPIA dalam pelaksanaan 4 Prong
    5. Melakukan monitoring dan evaluasi secara berjenjang

 

  1. Kegiatan dilaksanakan secara komprehensif
    1. Mecegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduksi. Melalui prinsip ABCD (Absen seks, Bersikap saling setia, Cegah dengan kondom, Dilarang menggunakan Napza).
    2. Mencegah kehamilan tidak direncanakan pada ibu dengan HIV. Perempuan dengan ODHA tidak dianjurkan untuk hamil lagi, dapat menggunakan kontrasepsi pilihan sesuai dengan kebutuhan.
    3. Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV ke bayi yang dikandungan. Merupakan inti dari PPIA, intervensi berupa :
      1. Pelayanan antenatal terpadu (layanan tes dan konseling HIV, pemberian terapi anti retroviral, pencegahan, diagnosis dan tata laksana infeksi menular seksual, malaria dan tuberkulosa)
      2. Persalinan yang aman
      3. Pelayanan nifas serta tata laksana pemberian makanan terbaik bagi bayi dan anak
      4. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu dengan HIV beserta bayi dan keluarganya
      5. Dukungan lanjutan bagi ibu : Pemeriksaan kondisi kesehatan (CD4 & viral load), pemantauan terapi ARV, konseling dan dukungan kontrasepsi serta pengaturan kehamilan
      6. Dukungan pada bayi : Pemberian kotrimoksazol dan ARV pencegahan , informasi dan edukasi pemberian makanan bayi, diagnosis HIV pada bayi, penyuluhan kepada anggota keluarga tentang cara penularan HIV dan pencegahannya

 

  1. Konseling dan Tes HIV Tes dan konseling dalam PPIA yaitu :
    1. Tes dan konseling atas inisiatif petugas kesehatan (TKIP)
    2. Konseling ARV
    3. Konseling kehamilan dan persalinan
    4. Konsesling pemberian makanan bayi
    5. Konseling psikologis dan sosial

 

  1. Terapi anti Retrovirus  (ART)
    1. Bertujuan untuk menurunkan kadar HIV serendah mungkin sehingga mengurangi resiko penularan
    2. Merujuk pada Pedoman Tatalaksana dan Terapi ARV Pada Orang Dewasa, 2011
    3. Diberikan kepada semua perempuan HIV positif yang hamil, tanpa harus memeriksakan ART dilanjutkan seumur hidup

 

  1. Persalinan yang aman

Pertolongan persalinan mengikuti kewaspadaan universal

 

  1. Pemberian makanan bayi
    1. Manajemen laksatasi yang baik untuk mencegah lecet dan radang payudara
    2. Bila puting sedang lecet/luka, ASI tsidak diberikan melalui puting lecet
    3. ASI ekskludif diberikan 6 bulan, atau dihentikan sesegera mungkin bila syarat AFASS terpenuhi (sangat tidak dianjurkan memberikan makanan campuran ASI+Formula)
    4. Syarat WHO untuk susu formula : AFASS (Acceptabel : dapat diterima, Feasible : mudah dilakukan, Affordable : harga terjangkau, Sustainable : berkesinambungan, Safe : Aman)

Penularan HIV pada ibu dan selanjutnya pada bayinya akan meningkat seiring dengan trend peningkatan jumlah kasus HIV AIDS 10 tahun terakhir. Peningkatan pengetahuan, keterampilan tentang HIV secara komprehensif pada usia reproduktif (15-24 tahun) perlu giat disuarakan untuk mencegah penularan pada usia reproduktif. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama guna menyelamatkan generasi yang akan datang.

Created by. Wulansari, SKM

Sumber:

Share this post