Jl. RC. Veteran Raya No.178(021) 7342012 Senin - Sabtu: 08:00 - 17:00 /

Blog

Pelatihan Kegawatdaruratan Klinis di RS dr. Suyoto

Rumah Sakit dr. Suyoto mengadakan Pelatihan Kegawatdaruratan Klinis di RS dr. Suyoto Pusrehab Kemhan pada Selasa, 14 Agustus 2018 yang bertempat di Aula Rehabmedik lantai 3 RS dr. Suyoto Pusrehab Kemhan. Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Kepala Rumah Sakit dr. Suyoto, Kolonel Ckm dr. Sudarsono, Sp.RM. Seluruh peserta dan pejabat yang hadir dalam pelatihan berjumlah 78 orang. Pelatihan ini diisi oleh 6 orang pembicara, yaitu dr. Titi Amalia, M.KedOG, SpOG; dr. Nurida Memorisa Siagian, SpOG; dr. Maria Ekawati, SpA; dr. Septian C. Nugroho, MD; dr. Swastya Dwi Putra; dan dr. Ruri D. Pamela, SpKK. Dalam pelatihan ini juga, seluruh peserta diharuskan mengikuti pre-test sebelum pelatihan dilakukan dan post-test ketika pelatihan akan berakhir.

Ibu dr. Titi Amalia, M.KedOG, SpOG memberikan materi terkait dengan Kegawatdaruratan Ginekologi. Kegawatdaruratan ginekologi dapat berupa kehamilan ektopik yang terganggu, kista ovarium terpuntir, kista pecah atau ada robekan pada dinding kista, dan pendarahan. Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang berada di luar tempat semestinya, yang jika terjadi abortus atau ketuban pecah dini (KPD) dapat membahayakan bagi wanita. Diagnosa kehamilan ektopik melalui data anamnesis (rekam jejak), seperti telat haid, kehamilan muda, pendarahan di pervaginam, dan nyeri pada bagian kanan/kiri bawah perut. Selain itu, diagnosa kehamilan ektopik dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya, seperti cek laboratorium, USG, dan kuldosentesis.

Kista ovarium yang terpuntir merupakan penyebab nyeri abdomen (perut) bagian bawah yang jarang. Angka kejadian umumnya pada awal usia reproduksi, dengan persentase usia dibawah 30 tahun sebesar 70-75%. Diagnosa yang dilakukan dapat berupa anamnesis seperti nyeri tajam bagian bawah abdomen yang bahkan dapat menjadi kram perut, mual, muntah, dan demam. Selain itu, diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik yang berupa nyeri tekan umum, nyeri lepas, dan muscle rigidity yang mirip dengan abses pelvis atau apendisitis, serta pemeriksaan penunjang seperti USG, kombinasi Doppler Flow Imaging dan Computed Tomography. Sedangkan untuk kista pecah atau robekan pada dinding kista dapat didiagnosis dengan gejala klinis yang berupa nyeri pelvis (pinggang) sampai dengan abdomen, nyeri yang awalnya hanya satu sisi tapi kemudian dapat menyebar ke seluruh bagian pelvis, pendarahan, pemeriksaan abdomen, pemeriksaan pelvis, demam dan leukositosis jarang ditemukan, dan penurunan hematokrit. Sedangkan pada kasus pendarahan perlu diperhatikan kelainan yang diderita, yaitu gangguan hati, gangguan ginjal, kehamilan, tekanan darah tinggi, diabetes melitus (DM), hipersensitif, penyakit trombeomboli, dll.

Ibu dr. Nurida Memorisa Siagian, SpOG memberikan paparan materi berupa Kegawatdaruratan Obstetri yang berupa 6 pilar kesehatan reproduksi (keselamatan bagi wanita), yaitu family planning (perencanaan keluarga), antenatal care (pelayanan kelahiran), obstetric care (pelayanan kebidanan), postnatal care (pelayanan pasca kelahiran), abortion care (pelayanan abortus), dan STD/HIV control. Yang didasari oleh komunikasi untuk perubahan kebiasaan, pelayanan kesehatan dasar, dan keadilan bagi perempuan.

Ibu dr. Maria Ekawati, SpA memberikan materi bertema Resusitasi Neonatus yang berisi setiap bayi yang baru lahir memerlukan resusitasi (pernafasan) yang baik. Sedangkan ada 10% bayi yang baru lahir memerlukan intervensi bag and mask ventilation untuk bernafas dan 1% bayi yang baru lahir memerlukan bantuan intubasi bahkan sampai obat-obatan.

Selanjutnya presentasi yang dibawakan oleh dr. Septian C. Nugroho, MD yang berjudul Pengenalan Dini Pasien dengan Kegawatdaruratan dan Aktivitas Sistem Kegawatdaruratan. Isi dari materi tersebut berupa pengawasan dan penilaian dini kondisi kritis pasien dapat mengurangi kejadian henti jantung. Penerapan early warning system dan rapid response system dapat menurunkan kejadian henti jantung dan mortalitas. Untuk penerapan dibutukan penyesuaian di masing-masing rumah sakit.

Presentasi yang dibawakan oleh dr. Swastya Dwi Putra berjudul Sistem Triase RS dr. Suyoto. Yang berisi bahwa triase berfungsi untuk mengklasifikasikan pasien sesuai dengan kegawatdaruratan yang dimiliki untuk mendapatkan penanganan di IGD. Berarti triase bukan melihat kompleksitas penyakit yang dialami pasien. Klasifikasi ini menentukan waktu responpenanganan yang harus diberikan ke pasien. Triase dibutuhkan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan efektif. Sistem triase disesuaikan dengan kemampuan RS. Rumah sakit dr. Suyoto memiliki sistem triase sesuai dengan rekomendasi KARS yang mengacu kepada Sistem Australasian Triage Scale (ATS).

Presentasi yang terakhir dibawakan oleh dr. Ruri D. Pamela, SpKK bertema Kegawatdaruratan di Bidang Dermatologi dan Venereologi. Isi dari materi tersebut adalah Toxic Epidermal Necrolysis, Steven Jhonson Syndrome, Pemfigus Vulgaris, Drug eruption, dan Staphylococcal Scalded Skin Syndrome. Selain itu, dr. Ruri D. Pamela, SpKK juga memberikan materi terkait Cutaneous Manifestation in HIV (Manifestasi Kulit pada penderita HIV yang berisi manifestasi kulit sejak awal dan sangat mudah terlihat pada pasien dengan HIV dapat membantu dalam memprediksi keparahan dan peningkatan penyakit. Sampai dengan 90% penderita HIV menderita penyakit kulit selama masa patologis (masa perjalanan) penyakit mereka.

Share this post